Implementasi Arsitektur AIoT untuk Deteksi Manusia dan Objek di Dalam Ruang Tertutup guna Mendukung Penyediaan Data Pengintaian pada Operasi Intelijen Militer
DOI:
https://doi.org/10.54317/kom.v7i2.1017Keywords:
AIoT, penginderaan menembus dinding, radar ultra-wideband, Channel State Information, komputasi tepi, fusi multisensor, ISRAbstract
Pengintaian ruang tertutup membutuhkan gambaran situasi tanpa harus melakukan penetrasi fisik. Penelitian ini merancang dan mengevaluasi arsitektur Artificial Intelligence of Things (AIoT) empat lapis yang mengintegrasikan penginderaan radio frekuensi menembus dinding, inferensi pada perangkat tepi, dan telemetri terenkripsi menuju simpul komando. Lapis sensor memadukan radar impuls ultra-wideband, Channel State Information (CSI) Wi-Fi, radar FMCW 60 GHz, dan kamera inframerah. Kanal radio diproses dengan CNN–BiLSTM, kanal visual dengan YOLOv8n terkuantisasi, kemudian keluaran digabungkan melalui fusi adaptif berbasis keandalan. Lima skenario penghalang diuji masing-masing 600 kali. Akurasi turun dari 97,33% pada line-of-sight menjadi 73,00% pada kombinasi beton bertulang 20 cm dan bata 15 cm. Pada skenario beton bertulang, fusi adaptif mencapai akurasi 83,67%, dibandingkan 78,83% pada fusi bobot tetap dan 79,17% pada UWB tunggal. Latensi ujung-ke-ujung sebesar 206,2 ms; PDR agregat telemetri 91,88%; dan model log-distance menghasilkan eksponen 3,62 dengan RMSE 1,17 dB serta jangkauan praktis sekitar 2,1 km pada margin pudaran 10 dB. Evaluasi juga menunjukkan tiga batas penggelaran: radar milimeter tidak efektif menembus beton bertulang, kapasitas LoRa tidak memadai untuk telemetri kontinu 2 Hz, dan konfigurasi surya 50 Wp mengalami defisit energi.
